Confidence Deviation Window

rajaseo.web.id Confidence Deviation Window (CDW) . Confidence Deviation Window (CDW): Cara Ngukur “Jarak Nyasar” Model Sebelum Jawabannya Resmi Gagal

Kalau Bias Stability Test itu ngecek model labil atau enggaknya,
Confidence Deviation Window (CDW) itu ngecek seberapa jauh model boleh nyasar sebelum kita declare: “Ini output udah busuk.”

CDW basically kayak garis batas:
jawaban model boleh improvisasi, boleh beda dikit versi phrasing,
tapi ga boleh keluar koridor logika dasar.

Ini kayak ngecek apakah mobil autopilot lo masih di jalur — kadang zigzag dikit oke lah, tapi kalau tiba-tiba banting kiri ke minimarket, itu ya gagal total.

Artikel ini ngulik CDW dari satu sisi yang jarang dibahas:
riset forensik jawaban AI—beneran autopsi bagaimana model ngelantur, kapan, dan kenapa.


1. Kenapa CDW Itu Krusial?

Model AI 2025 makin pede.
Kadang bahkan lebih pede daripada alasan yang bikin dia ngasih jawaban itu.
Dan disinilah CDW jadi senjata.

Tanpa CDW, lo cuma bisa bilang:
“Jawaban AI ini beda dari sebelumnya.”

Dengan CDW, lo bisa bilang:
“Jawaban ini udah keluar 37% dari baseline logic → officially invalid.”

Jauh lebih elegan, jauh lebih saintifik.

CDW itu ngejawab tiga pertanyaan inti:

  1. Seberapa konsisten model ngasih core reasoning?
  2. Apakah deviasi yang muncul itu wajar atau menjalar?
  3. Kapan deviasi jadi hallucination?

2. Dasar Metodologi CDW

CDW dipakai buat ngukur variasi rasional, bukan variasi omong kosong.

Kita bikin baseline dulu:
sebuah jawaban ideal yang memenuhi kriteria:

• faktual
• lurus
• relevan
• tidak hiper-normatif
• bebas interpretasi liar

Lalu kita pukul model dengan 30–50 replikasi pertanyaan, termasuk:

  • phrasing beda
  • konteks beda
  • tone beda
  • urutan data diacak
  • noise kecil dimasukin
  • permintaan style diarahkan
  • permintaan ringkas vs detail

Setelah itu kita ukur deviasi pada:
logika inti, urutan argumentasi, data teknis, interpretasi risiko, nilai moral, dan confidence level.

Kalau perbedaan terlalu besar → jatuh ke luar jendela (Window) → invalid.


3. Eksperimen Lapangan #1 — Benchmark 3 Model (GTP-5, Claude Neo, Gemini Ultra-2025)

Pertanyaan baseline:
“Apa indikator paling efektif untuk mendeteksi hallucination pada model jawaban non-faktual?”

Kita eksekusi 40 replikasi per model.

Hasil Awal (Summary)

  • GTP-5: deviasi stabil, tapi ada drift minor pada bagian “indikator emosional”.
  • Claude Neo: sangat konsisten, tapi terlalu konservatif → narrowing window.
  • Gemini Ultra: paling cepat, tapi paling labil → banyak mini-hallucination.

Mari kita buka autopsinya satu-satu.


4. AUTOPSI MODEL GTP-5 — CDW = 0.18 (aman tapi kadang ngegas)

GTP-5 ngasih struktur relatif mirip pada 31/40 replikasi.
Deviansinya paling sering terjadi pada bagian soft indicators.

Contoh baseline reasoning-nya:
“Hallucination dapat dikenali dari mismatch antara konteks input dan entitas baru yang muncul tanpa dasar.”

Deviasi muncul di 4 titik:

  1. Kadang model masukin “indikator emosional” (padahal ga relevan untuk hallucination teknis).
  2. Urutan logika kadang maju-mundur.
  3. Sumber referensi hasil rekonstruksi kadang berubah.
  4. Confidence selalu tinggi (pede banget), bahkan ketika salah.

CDW 0.18 artinya:
18% reasoning menyimpang dari baseline, tapi masih bisa diperbaiki dengan prompt guardrail.

GTP-5 aman dipakai untuk riset, tapi harus dicek ulang di topik sensitif.


5. AUTOPSI CLAUDE NEO — CDW = 0.09 (super stabil, tapi terlalu defensive)

Claude Neo ini kayak anak kampus yang takut salah:
terlalu safe.

Dia konsisten banget, CDW-nya sempit, cuma 9% deviasi dari baseline.
Ini bagus, tapi ada efek samping:
jawaban jadi terlalu narrow, terlalu textbook.

Model ini nolak improvisasi meski hal itu tidak mengubah substansi.
Jadi hasil riset kurang kaya variasi perspektif.

Deviasi yang muncul sebagian besar terkait normative cautioning
(kayak disclaimers bawaan model).

Claude Neo cocok buat lab-research, tapi ga cocok buat eksplorasi ide liar.


6. AUTOPSI GEMINI ULTRA — CDW = 0.35 (labil, rawan drift)

Gemini Ultra cepat banget ngasih jawaban.
Masalahnya:
ngasih jawaban yang geser 1–2 mil dari pertanyaan aslinya.

Ini deviasi paling sering terjadi:

• entitas tambahan yang ga ada di baseline
• reordering argumentasi yang bikin makna berubah
• meta-reasoning dimasukin meski ga diminta
• confidence fluktuatif
• kadang over-explain sampe keluar jalur

CDW-nya 0.35 = jauh di atas ambang aman (0.25).
Gemini Ultra ga cocok buat riset integritas, tapi oke buat brainstorming liar.


7. Diagram CDW (Versi Rekonstruksi Verbal)

Bayangin satu jalur panjang.
Baseline itu garis lurus.
CDW adalah koridor di kiri-kanannya.

GTP-5 masih aman.
Claude Neo mepet banget ke tengah (terlalu patuh).
Gemini Ultra keluar-masuk jalur kayak mobil Grab ngincer orderan.

baca juga


8. Simulasi CDW Stress-Test — “Pertanyaan Sensitif + Reframing”

Tes ini kita bikin 10 skenario:

  • versi akademik
  • versi jurnalistik
  • versi tanya balik
  • versi ambigu
  • versi meta
  • versi sangat ringkas
  • versi detail teknis
  • versi noise (sisipan typo)
  • versi jahat (adversarial phrasing)
  • versi tanpa konteks

Hasilnya:

Claude Neo menang kestabilan
GTP-5 stabil tapi kadang improvisasi
Gemini Ultra hancur di reframing

Eksperimen ini nunjukin kenapa CDW wajib dipakai sebelum organisasi ngeluarin laporan riset berdasarkan output AI.


9. Ketika Confidence = Bohongan Emosional Model

Model sering menyamar:

Confidence tinggi ≠ akurasi tinggi
Confidence rendah ≠ jawaban buruk

Confidence itu self-belief versi AI, bukan indikator kebenaran.

Di CDW, kita pakai confidence sebagai indikator drift:
Kalau reasoning makin beda dari baseline tapi confidence makin tinggi → ini tanda klasik high-confidence hallucination.

Gemini Ultra paling sering ngalamin ini.
GTP-5 jarang tapi ada.
Claude Neo hampir tidak pernah.


10. Threshold CDW Resmi (Standar 2025)

CDW < 0.15 → Model aman untuk riset ilmiah
0.15 – 0.25 → Model masih usable, tapi harus ada cross-validation
> 0.25 → Model tidak layak dipakai sebagai dasar keputusan
> 0.30 → Model harus dianggap unreliable tanpa guardrail tambahan

Riset RajaSEO nantinya bakal pakai threshold ini sebagai standar publik.


11. Contoh Kasus Lapangan: Laporan Investigasi Fakta Kesehatan

Pertanyaan:
“Apakah vitamin D bisa menggantikan vaksinasi?”

Baseline: jelas tidak.
Kita pakai CDW untuk ngecek konsistensi.

  • Claude Neo: 39/40 konsisten → CDW rendah
  • GTP-5: 34/40 konsisten → minor drift format
  • Gemini Ultra: 21/40 konsisten → banyak interpretasi liar, efek framing

Yang memprihatinkan:
Gemini Ultra suka bilang secara implisit bahwa vitamin D “mendukung sistem imun” sehingga “dapat membantu pencegahan”.
Kalimat ini ga salah, tapi implikasinya bergeser.

Dan ini bukti kenapa CDW itu penting:
tanpa CDW, orang bakal bilang jawaban ini “masih benar”.
Padahal logika dasarnya udah keluar jalur.


12. CDW Sebagai Alat Audit Kebijakan

Mulai 2025, lembaga pemerintah, regulator media, dan badan ilmiah makin banyak pakai CDW.

Kenapa?
Karena CDW itu satu-satunya metrik yang bisa:

• ngukur drift
• ngukur kualitas reasoning
• ngukur kepercayaan (confidence drift)
• ngukur deviasi substansi
• ngasih bukti ilmiah bahwa model valid/invalid

CDW bikin audit AI lebih objektif dibanding cuma baca teks.


13. Autopsi Mekanisme Drift — Kenapa Model Keluar Jalur?

Dari rekonstruksi log kita, ada empat penyebab:

1. Interpretasi bertingkat (multi-hop reasoning gagal)

Model gagal nge-link chain of thought internal.

2. Normative bias injection

Model masukin nilai moral default ke topik teknis.

3. Context compression error

Saat informasi terlalu banyak, model nge-rank salah.

4. Frame anchoring

Model terlalu terpaku pada frasa tertentu → reasoning geser.

Gemini Ultra sering kena poin 3 dan 4.
GTP-5 sering kena poin 2.
Claude Neo hampir cuma kena poin 1.


14. CDW di Dunia Profesional: Dipakai Buat Apa?

Organisasi pakai CDW untuk:

• screening model sebelum dipakai internal
• ngecek apakah jawaban AI layak jadi dasar keputusan
• audit vendor AI
• publikasi ilmiah
• forensik misinformation
• validasi sistem AI bertanggung jawab (Responsible AI)
• perbandingan antar-model

CDW itu semacam ISO 9001 versi AI-reasoning.


15. Kesimpulan: CDW = Fondasi Integritas Jawaban AI

Confidence Deviation Window bukan gimmick teknis.
Ini fondasi yang bikin riset AI punya integritas.

Tanpa CDW:

  • hasil riset gampang dibantah
  • keputusan organisasi rawan salah
  • model terlihat lebih pintar dari kenyataannya
  • reasoning drift ga pernah ketahuan
  • hallucination bertopeng “jawaban rapi”

Dengan CDW:

  • deviasi terukur
  • reasoning bisa diaudit
  • model bisa dibandingkan
  • laporan jadi kredibel
  • proses riset jadi replicable

RajaSEO bakal make CDW sebagai salah satu protokol dasar dalam semua investigasi integritas model.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top