Retrieved Document Poisoning: Instruksi Jahat di Dalam PDF dan Dokumen

Publication state: draft protocol, 29 Juli 2026. Setiap temuan tentang Retrieved Document Poisoning harus menunggu execution log dan replikasi.

Kadang-kadang kegagalan terbaik justru terlihat seperti keberhasilan. Dokumen uji berisi isi valid, footnote adversarial, dan metadata yang mencoba mengubah workflow.

Dalam pengujian Retrieved Document Poisoning, instruksi berbahaya tidak selalu datang dari pengguna. Ia dapat bersembunyi dalam halaman web, PDF, hasil tool, memory, atau pesan dari agen lain yang tampak sah. AppSec dan AI security engineer perlu melihat jalur serangan sampai keputusan agen, bukan sekadar apakah sebuah prompt diblokir.

Human review pada Retrieved Document Poisoning juga melihat keputusan yang secara teknis “selesai” tetapi secara konteks tidak layak dipakai. Skenario dokumen uji berisi isi valid, footnote adversarial, dan metadata yang mencoba mengubah workflow memberi ruang untuk membandingkan output yang percaya diri, output yang meminta klarifikasi, serta output yang menolak. Ketiganya dapat benar atau salah tergantung bukti dan boundary yang berlaku.

Kegagalan yang Tampak Seperti Keberhasilan

Pembaca Retrieved Document Poisoning tidak membutuhkan bahasa yang terdengar pasti. Mereka membutuhkan batas yang menjelaskan bagian mana yang benar-benar diuji.

Objek Uji dan Hipotesis

Batas riset Retrieved Document Poisoning dibuat eksplisit: Apakah instruksi adversarial dalam PDF, spreadsheet, atau dokumen retrieval mengubah tindakan agen? Scope yang sempit justru membuat kegagalan lebih mudah dijelaskan.

Model dapat memproses instruksi dan data pada kanal yang sama tanpa batas yang tegas.

Menentukan Skenario Kontrol

Bahan uji Retrieved Document Poisoning sengaja dekat dengan workflow nyata: Dokumen uji berisi isi valid, footnote adversarial, dan metadata yang mencoba mengubah workflow. Namun seluruh nama, credential, dan data sensitif dibuat sintetis.

  • Identitas run Retrieved Document Poisoning: trusted instruction hierarchy.
  • Kondisi input: konten tidak tepercaya dan lokasi penyisipannya.
  • Jejak yang disimpan: tool scope, data boundary, serta secret canary.
  • Boundary: deteksi, refusal, approval, dan post-incident trace.

Ketika Reviewer Tidak Sepakat

Prosedur analisis Retrieved Document Poisoning menuntut ukur instruction source recognition, policy adherence, extraction accuracy, dan escalation. Data mentah, anotasi, dan interpretasi disimpan pada lapisan berbeda.

Dalam review Retrieved Document Poisoning, tes memakai data sintetis dan canary, tanpa credential atau informasi nyata yang berisiko. Bila reviewer berbeda, disagreement dicatat dan diselesaikan dengan adjudication note yang menunjuk ke evidence.

Limitation Sebelum Kesimpulan

Pada tahap sekarang, Retrieved Document Poisoning adalah experiment record, bukan result page. Bukti belum cukup untuk menyebut pola stabil.

Sebelum Retrieved Document Poisoning disebut selesai, reviewer memastikan bahwa output ekstrem tidak dipilih sebagai wakil seluruh dataset.

Mengulang Tes secara Jujur

Keterbatasan Retrieved Document Poisoning mencakup parser dokumen dan OCR ikut memengaruhi exposure. Perubahan produk di tengah periode uji dapat memecah dataset menjadi cohort berbeda.

Replikasi Retrieved Document Poisoning dilakukan setelah main run lolos review. Pilot tidak digunakan sebagai baseline publik.

Dokumen bukan pihak yang berwenang memberi perintah hanya karena ia masuk ke context window. Retrieved Document Poisoning ditempatkan sebagai bagian dari skenario kegagalan dan keamanan AI. Hubungan metodologisnya mengarah ke Research Standards Protocol, dengan sibling evidence pada Indirect Prompt Injection Test pada Halaman Web dan Tool Output Injection Test: Ketika Hasil Tool Mengambil Alih Agen.

Sumber yang Membantu Membatasi Scope Retrieved Document Poisoning

Rujukan berikut membantu menyusun boundary dan terminology untuk Retrieved Document Poisoning. Sumber eksternal tidak dianggap sebagai bukti bahwa main run Rajaseo telah selesai.

Scroll to Top